Aku pikir, aku rasakan, aku imajinasikan. Pahit, tapi kenapa hal-hal bodoh seperti itu terus kulakukan? Aku sendiri tak tahu. Kata orang, kalau baru ada masalah, jangan dipikir terus, berusaha lupakan sebentar. Tapi aku tak bisa. Aku bahkan tak bisa mengenali, apakah ini masalah. Ataukah hanya masalah kacangan belaka. Atau hanyalah fikir fana tentangnya yang tak pernah hilang dari otakku, merajai setiap buluh darahku, sehingga aku menganggapnya sebagai masalah.
Pertama kali ku bersua, tak terlintas bayang hitam kelam ataupun firasat aneh. Pertama kali kuberucap di depannya, bertanya, menjawab, tertawa akan candaannya, tak terbayang bagaimana hatiku mengalami sesuatu yang sangat aneh, perasaan yang aku sendiri sampai sekarang tak tahu maksud jelasnya. Pertama kali aku dan dia bercanda lewat pesan elektronik, memainkan peran humoris dalam beberapa menit, aku tak pernah kira, sekarang aku akan merindukannya.
Setiap seseorang berucap, dia akan berkomentar lucu tentang itu sambil menengok ke arahku. Ah, spesial, ucapku dalam hati.
Setiap kebetulan yang sangat kebetulan dengan presentasi terjadi 5 tahun sekali, membuat jantung ini berdetak, sementara mukaku memerah malu.
Juga setiap dia menengok ke gadis lain, aku akan memerhatikannya dari samping, sambil berbatin, "Berbaliklah, dan biar kutatap wajah manismu."
Bunga-bunga wangi memang sedang bermekaran di sini. Merebak, menghembuskan nafas wanginya. Membuat aku selalu menunggu matahari pagi bersinar, dan saat itu aku dapat membayangkan dia sudah berada di sana, walaupun aku tahu dia tidak menungguku.
Aku hanya dapat menahan buncahan rasa kaget mendengar dia benar-benar memutar kemudi hatinya. Meskipun aku tahu hatinya belum pernah untukku. Tapi setidaknya...setidaknya...
Ah, aku baru sadar! Aku terlalu terlarut dalam pesonanya! Betapa malang hatiku merasakan hal yang seharusnya tak pernah akan aku rasakan.
Dan sekarang aku bingung. Aku kasmaran, tapi dia tidak. Simpel, bukan?
|
|
|---|

